Friday, December 21, 2018
TNI Hadir Untuk Melindungi Rakyat Bukan Untuk Membunuh
Jayapura, 20 Desember 2018
Menyikapi Seruan Gubernur Papua Lukas Enembe (LE) dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua Yunus Wonda (YW) serta para pimpinan Fraksi DPR Provinsi Papua pada hari Kamis (20/12/2018), kepada Presiden RI, Panglima TNI dan Kapolri agar menarik seluruh aparat TNI-Polri yang sedang melaksanakan tugas pengamanan di Kabupaten Nduga pasca terjadinya tindakan pembantaian secara keji terhadap puluhan orang Pahlawan Pembangunan Papua di Puncak Kabo Distrik Yigi Kab. Nduga pada tanggal 1-2 Desember lalu.
Kapendam XVII/Cenderawai Kolonel Inf Muhammad Aidi saat dihubungi awak media memberikan tanggapan. "Saya sudah baca seruan tersebut yang diberitakan oleh beberapa media", ujar Aidi. "Seruan tersebut menunjukkan bahwa Gubernur dan Ketua DPR serta pihak-pihak tidak memahami tugas pokok dan fungsi (tupoksi)nya sebaga pemimpin, pejabat dan wakil rakyat. Bahwa seorang Gubernur adalah wakil dan perpanjangan tangan pemerintah pusat dan Negara Republik Indonesia (RI) di daerah. Gubernur berkewajiban menjamin segala program Nasional harus sukses dan berjalan dengan lancar di wilayahnya. Bukan sebaliknya malah Gubernur bersikap menentang kebijakan Nasional".
"Kehadiran TNI-Polri di Nduga termasuk di daerah lain di seluruh wilayah NKRI adalah untuk mengemban tugas Negara guna melindungi segenap Rakyat dan seluruh tumpah darah Indonesia, kok, Gubernur dan ketua DPR malah melarang kami bertugas, sedangkan para gerombolan separatis yang nyata-nyata telah melakukan pelanggaran hukum dengan membantai rakyat, mengangkat senjata untuk melawan kedaulatan Negara malah didukung dan dilindungi".
"Sampai sekarang masih ada empat orang korban pembantaian oleh KKSB yang belum diketahui nasibnya dan entah dimana rimbahnya, Bapak Gubernur, Ketua DPR, Para Ketua Fraksi-Fraksi DPR, Pemerhati HAM dan seluruh pihak-pihak yang berkepentingan, Apakah Saudara-Saudari semua dapat memahami bagaimana perasaan duka keluarga korban yang setiap saat menanyakan kepada TNI-Polri tentang nasib keluarganya yang masih hilang? Apalagi kalau mereka mendengar bahwa TNI-Polri telah menghentikan pencarian karena perintah Gubernur dan DPR? Dimana hati nurani Saudara-Saudari sebagai manusia sama-sama ciptaan Tuhan apalagi sebagai pemimpin? Bagaimana kalau hal tersebut terjadi pada Anda?"
Sebagaimana yang tertuang dalam UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH, Pasal 67. Kewajiban kepala daerah dan wakil kepala daerah meliputi: khususnya poin; a. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan poin f. melaksanakan program strategis nasional.
Dengan demikian bila Gubernur LE bersikap mendukung perjuangan Separatis Papua Merdeka dan menolak kebijakan program strategis Nasional maka LE telah melanggar UU Negara dan patut dituntut sesuai dengan hukum.
Gubernur adalah ketua Forkopinda di daerah dimana anggotanya meliputi Pangdam, Kapolda Ketua Pengadilan dan Kepala Kejaksaan. Dengan posisinya LE seharusnya melaksanakan rapat Forkopinda untuk bersama-sama membahas tentang upaya menumpas gerakan separatis diwilayahnya. Bukan membuat satatemen yang seakan-akan mejadi juru bicara gerombolan separatis dan menyudutkan peranan TNI-Polri dalam penegakan hukum.
"Kodam XVII/Cenderawasi tidak akan menarik pasukan dari Kabupaten Nduga. Selaku prajurit di lapangan hari Raya bukanlah alasan untuk ditarik dari penugasan, karena kami yakin Tuhanpun juga Maha Tahu akan kondisi itu. Sebagian besar Prajurit kami juga ummat Kristiani. Pangdam dan Kapolda juga hambah Tuhan. Kami Parjurit sudah terbiasa merayakan hari Raya di daerah penugasan, di gunung, di hutan, di tengah laut atau dimanapun kami ditugaskan. Dan tidak ada masalah dengan perayaan Natal di Mbua dan Yigi Kompleks, Rakyat dan aparat keamanan khususnya umat Kristiani akan melaksanakan ibadah secara bersama-sama. Tanggal 6 Desember yang lalu di Mbua dilaksanakan ibadah bersama antara Rakyat dan TNI di Gereja Mbua dipimpin oleh Pendeta Nataniel Tabuni (Koordinator Gereja se Kab. Nduga) dihadiri oleh Danrem 172/PWY Kolonel J. Binsar. P. Sianipar".
"Saya ingin menegaskan bahwa terjadinya tindakan kekerasan yang memakan korban dan mengakibatkan trauma terhadap rakyat di Nduga termasuk di daerah manapun di seluruh Indonesia bukan disebabkan karena hadirnya aparat keamanan TNI-Polri di daerah tersebut. Tetapi kekerasan itu terjadi karena adanya pelanggaran hukum, karena adanya gerombolan separatis yang mempersenjatai diri secara illegal, melakukan pembantaian secara keji terhadap rakyat sipil yang tidak berdosa. Ingat, mempersenjatai diri sendiri cara illegal itu sudah merupakan pelanggaran hukum berat yang tidak pernah dibenarkan dari sudut pandang hukum manapun di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia. Tapi kalau aparat keamanan yang diminta untuk meletakkan senjata, itu adalah kesalahan terbesar".
"Jadi menurut Saya Gubernur dan Ketua DPR serta pihak manapun tidak sepantasnya meminta aparat keamanan TNI-Polri ditarik dari Nduga dimana di daerah tersebut telah terjadi pelanggaran hukum berat yang harus mendapatkan penindakan hukum. Justru apabila TNI-Polri tidak hadir padahal nyata-nyata di tempat tersebut telah terjadi pelanggaran hukum berat maka patut di sebut TNI-Polri atau Negara telah melakukan tindakan pembiaran".
"Seharusnya bila Gubernur dan Ketua DPR sebagai seorang pemimpin dan wakil rakyat yang bijak, beliau tidak harus meminta aparat keamanan TNI-Polri yang ditarik, tetapi para pelaku pembantaian itulah yang harus didesak untuk menyerahkan diri beserta senjatanya kepada pihak yang berwajib guna menjalani proses hukum untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya".
"Bukankah gerombolan Separatis pimpinan Egianus Kogoya telah menyatakan bahwa merekalah yang bertanggung jawab telah melakukan pembantaian terhadap puluhan karyawan PT. Istaka Karya? Kalau mereka memang bertanggung jawab harusnya jangan menjadi pengecut dan bersembunyi kemudian kemana-mana berkoar-koar seolah-olah mereka yang teraniaya sedangkan aparat keamanan dituduh sebagai penjahat kemanusiaan".
"Kami TNI-Polri bukan datang untuk menakut-nakuti Rakyat apalagi membunuh Rakyat. Yang kami cari adalah mereka para pelaku pembantaian. Rakyat dan aparat TNI-Polri bisa merayakan Natal bersama di daerah tersebut. Rakyat tidak perlu merasa terganggu atas kehadiran TNI-Polri di Mbua dan Yigi Kompleks. Yang merasa terganggu adalah mereka para pelaku kejahatan yang berlumuran dosa telah membatai warga sipil yang tidak berdaya".
"Kepada para kelompok-kelompok berkepentingan, para pejabat birokrat, wakil rakyat, akademisi, tokoh agama, aktifis, pemerhati HAM dan lain-lain yang selalu berkomentar miring menyudutkan aparat TNI-Polri, seakan-akan tidak ada sesuatupun yang benar yang dilakukan oleh TNI-Polri, instrofeksilah diri Saudara, berhentilah mengatas namakan rakyat, seolah-olah Saudara adalah dewa pelindung dan penyelamat rakyat, karena belum tentu juga seberapa besar peranan Saudara untuk memihak kepada kepentingan Rakyat. Ketika rakyat sipil atau anggota TNI-Polri yang jadi korban oleh kebiadaban para KKSB, Saudara semua diam, bungkam seribu bahasa. Tetapi manakala yang menjadi korban adalah pihak KKSB Saudara-saudara langsung bereaksi bagaikan cacing kepanasan. Ini semua indikator apa????"
"Saat Asmat dilanda musibah KLB campak dan gizi buruk, TNI adalah institusi pertama yang terjun langsung ke Asmat dengan mengerahkan segala sumber dayanya dipimpin langsung oleh Pangdam XVII/Cend dan Panglima TNI, tapi kami tidak pernah tahu bantuan apa yang telah diberikan oleh pemerintah Provinsi dan wakil rakyat terhadap warga Asmat, bahkan mungkin satu kalioun Pemerintah Provinsi dalam hal ini Gubernur LE tidak pernah menengok warganya yang menderita di Asmat".
"Saat bencana Embun Beku melanda di Distrik Kuyawage Lannyjaya pada bulan Juli 2015, yang mengakibatkan ratusan masyarakat Kuyawage eksodus mengungsi ke Tiom, maka Dandim Jayawijaya dan Kapolres Lannyjaya beserta jajaranya yang paling pertama mendirikan tenda-tenda pengungsian, membangun dapur umum, menjemput para pengungsi sampai ke pucuk-pucuk gunung, kondisi seperti itupun kami masih diganggu dengan tembakan oleh kelompok Separatis pimpinan Enden Wanimbo. Tapi kami tidak pernah mendengar bantuan apa yang diberikan Pemda Provinsi dan wakil Rakyat terhadap warga Kuyawage".
"Saat Mbua dilanda penyakit dimana puluhan Bayi dilaporkan meninggal pada bulan Oktober-November 2015, Kodim 1702/Jayawijaya adalah institusi pertama yang mengirim bahan makanan, lauk pauk, pakaian, selimut dan lain-lain ke Mbua dan saat itu disambut oleh Pendeta Natalies Tabuni koordinator gereja se Kab. Nduga. Tapi kamipun tidak pernah mendengar bantuan apa yang telah diberikan oleh Pemda Provinsi dan Wakil Rakayat maupun Pemda Kabupaten Nduga terhadap rakyatnya di Mbua".
"Termasuk persoalan kemanusiaan lainnya yang melanda Papua selama ini, apakah itu wabah penyakit, bencana longsor, gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, konflik sosial dan lain-lain, TNI selalu hadir sebagai garda terdepan untuk meringankan beban warga yang menderita".
"Kami TNI-Polri tidak butuh dipuji dan disanjung terhadap apa yang telah kami lakukan untuk rakyat, karena memang itulah tugas dan kewajiban kami untuk melindungi segenap rakyat dan seluruh tumpah darah kami".
"Betul, kami dilatih, dididik dan disiapkan untuk membunuh dan terbunuh, tapi kami para prajurit adalah orang-orang yang paling menghargai kehidupan, karena kami siap mempertaruhkan kehidupan kami sendiri untuk menjamin kehidupan rakyat kami dan kehidupan yang lebih besar".
"Selaku Prajurit TNI dan Pribadi, Saya sangat hormat dan bangga kepada Walikota Jayapura, DR. Drs. Benhur Tommy Mano, M.M atas peryataan sikapnya yang tetap setia kepada NKRI dan menentang sistem yang tidak demokratis berlangsung di tanah Papua ini, yaitu sistem Noken. Bapak walikota telah mempresentasikan dirinya sebagai Negarawan sejati yang menempatkan kepentingan Bangsa dan Negara diatas kepentingan golongan, kelompok apalagi kepentingan Pribadi. Bapak walikota Jayapura patut menjadi contoh dan panutan bagi setiap Kepala Daerah, setiap pemimpin termasuk setiap tokoh Bangsa di seluruh Wilayah NKRI".
(Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi)
Sunday, December 16, 2018
Terima Kaki Palsu dari Wakasad, setelah 24 tahun Pardiyono bisa jalan normal kembali
SEMARANG -tniad.mil.id - Pardiyono (32 tahun) sangat gembira ketika menerima kaki palsu dari Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Tatang Sulaiman pada acara peringatan Hari Juang Kartika (HJK) tahun 2018, di Lapangan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Ambarawa, Sabtu (15/12/2018).
Warga Genting Jambu, Kecamatan Ambarawa ini, seakan tidak percaya bisa berjalan normal kembali. Dirinya berkali-kali memandang serta memegang dan mengelus kaki kirinya.
Ketika ditemui setelah upacara, Ia pun tidak bisa menutupi rasa kegembiraannya dan berkali-kali menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada TNI AD atas bantuan kaki palsu yang diberikan untuknya.
"Bantuan (kaki palsu) ini sangat berarti. Saya kini bisa berjalan normal, layaknya orang-orang pada umumnya,"ujarnya.
Lebih lanjut ayah dari seorang anak yang berusia 7 tahun ini, bercerita bahwa kehilangan kakinya itu berawal dari operasi dibagian telapak kakinya di salah satu rumah sakit pada tahun 1994.
"Daging tumbuh di telapak kaki, ada benjolan. Kemudian, kaki saya di kupas (operasi) tapi tidak ditutup, tidak dijahit dan infeksi. Saya merasa sakit selama 21 tahun,"ungkapnya
"Karena ada sakit gula dan setiap kecapean, pendarahan terus, maka pada tahun 2015, kaki diamputasi", imbuhnya.
Buruh batako yang bekerja bersama saudaranya ini, menyampaikan bahwa dirinya mendapatkan informasi pemberian kaki palsu tersebut dari Sumadi (warga Merican, Semarang).
"Pak Sumadi telepon, mas nek jenengan meh minta,sesuk neng Kodam Diponegoro (mas kalau anda mau minta besok ke Kodam Diponegoro)," ujarnya sambil tersenyum.
Dengan kaki palsunya, atlet difabel yang pernah bertanding di Pekan Para Games (Perparprov) Provinsi Jawa Tengah ke-3 Tahun 2018 di Surakarta semakin kuat keinginannya untuk berusaha mandiri ini.
"Saya ikut, lomba pada Cabor (cabang olah raga) lempar lembing, tolak peluru dan lempar cakram," katanya.
"Tapi kalah, karena ditandingkan dengan lawan yang kakinya utuh tapi jarinya nda ada dan dengan atlet pelatnas yang ikut paragames,"sambungnya.
Saat mengakhiri wawancaranya, Pardiyono menyampaikan harapannya untuk TNI AD yang menurutnya banyak membantu masyarakat dan kaum difabel seperti dirinya.
"Saya berterima kasih, sangat berterima kasih kepada para TNI yang sudah peduli kepada kaum seperti saya, kaum difabel. Semoga TNI lebih maju. Semangatlah pokoknya," pungkasnya.
Pada acara puncak HJK, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Tatang Sulaiman, selain menyerahkan 124 kaki Palsu juga menyerahkan bantuan Sembako 10.500 paket bagi masyarakat tidak mampu, pemberian kursi roda dan penyerahan kunci rumah kepada purnawirawan yang rumahnya di rehab.
Bantuan 124 kaki palsu yang diberikan oleh Wakasad kepada 122 orang difabel, merupakan hasil kerjasama antara TNI AD dengan PT. Armindo Prima, PT. KNI (Kaltim Nitrate Indonesia) serta Kick Andy Foundation. (Dispenad)
Kasad: Palagan Ambarawa, Kesemestaan Perjuangan Rakyat Indonesia
AMBARAWA - Peristiwa Palagan Ambarawa merupakan sejarah bangsa Indonesia yang menunjukkan kesemestaan perjuangan kemerdekaan yang melibatkan para pemuda serta masyarakat melawan kekuatan kolonial Belanda. Hal tersebut diungkapkan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa dalam amanat tertulisnya pada upacara peringatan Hari Juang Kartika (HJK) 2018, di Lapangan Panglima Besar Jenderal Soedirman Ambarawa, Sabtu (15/12/2018).
Dalam amanatnya yang dibacakan Wakasad Letjen TNI Tatang Sulaiman, Kasad juga mengucapkan selamat Hari Juang Kartika dan penghargaan kepada segenap prajurit dan Pegawai Negeri Sipil TNI AD beserta keluarga atas pengabdiannya selama ini.
Dikatakan Kasad, torehan tinta emas perjuangan para pemuda dan masyarakat Ambarawa bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menunjukan kesemestaan yang berujung kepada direbutnya kembali Ambarawa dari kolonial Belanda.
“Semangat patriotisme dan nasionalisme yang dibungkus dengan keberanian, keikhlasan, serta kerelaan berkorban dalam menghadapi musuh yang jauh lebih kuat, mampu menghantarkan para pejuang bersama rakyat mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” tegas Jenderal TNI Andika Perkasa.
Selanjutnya, kepada seluruh peserta upacara dan seluruh prajurit yang hadir, tema TNI Angkatan Darat Mengabdi dan Membangun Bersama Rakyat, merepresentasikan komitmen seluruh prajurit TNI AD dalam mengemban amanat perjuangan, yaitu membela kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
Pada akhir amanat, Kasad berpesan bahwa sebagai generasi penerus, wajib menjadikan semangat kemanunggalan TNI dan rakyat tersebut sebagai pendorong pengabdian bersama dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks serta dinamis.
“Saya mengajak agar momentum peringatan Hari Juang Kartika dimanfaatkan untuk melakukan introspeksi serta koreksi diri dan selanjutnya menatap lurus ke depan guna memantapkan langkah bersama guna mewujudkan TNI AD yang kuat, tangguh, modern dan profesional,”pungkasnya.
Usai kegiatan upacara, dilanjutkan dengan atraksi terjun payung yang dilakukan oleh 20 orang penerjun dari TNI AD, fly pass hely TNI AD, atraksi bela diri militer, sosiodrama Palagan Ambarawa, pemberian bantuan kepada masyarakat, syukuran dan hiburan.
Selesai upacara, dihadapan awak media, Letjen TNI Tatang Sulaiman mengatakan bahwa TNI AD akan menjadi besar dan membangun serta mengabdi untuk negeri bersama rakyat.
Terkait pesan yang ingin disampaikan dari Sosio Drama yang berhasil menyedot perhatian masyarakat, Wakasad menyampaikan bahwa cuplikan sosio drama tersebut menggambarkan tentang kegigihan para pejuang dalam mengusir penjajah dari Ambarawa.
"Ada semangat kebersamaan, ada sinergi antara komponen-komponen masyarakat pada saat itu, sehingga bisa mengusir tentara Sekutu yang begitu modern yang lengkap dengan persenjataan,"jelasnya.
"Semoga TNI Angkatan Darat akan semakin profesional, semakin kuat dan semakin modern. Untuk mewujudkannya, TNI Angkatan Darat tetap selalu baik-baik dengan rakyat, karena itu adalah kekuatan,"pungkasnya.
Selain melaksanakan upacara, tidak hanya di Ambarawa, seluruh jajaran TNI AD juga melaksanakan kegiatan pameran Alutsista, bakti sosial, rehab rumah, pemberian kaki palsu, pengobatan massal, olah raga bersama dan lain sebagainya yang semuanya dilakukan untuk rakyat.
Dalam upacara tersebut, juga dihadiri oleh mantan Kasad Jenderal TNI Mulyono, para sesepuh TNI AD, para pejabat TNI, Polri, Pemda, purnawirawan dan pejuang, serta tokoh-tokoh masyarakat. Bertindak sebagai Komandan Upacara, Wadanrindam IV/Dip, Kolonel Inf Surya Wibawa Suparman. (Dispenad).
Saturday, December 15, 2018
Thursday, December 13, 2018
PANGDAM II/SWJ HADIRI APEL “TIGA PILAR” DI LAMPUNG
Media Center Kodim 0411/LT.
Sekitar 3.500 personel Bintara Pembina Desa (Babinsa), Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) dan Kepala Desa/Lurah se-Provinsi Lampung, melaksanakan Apel “Tiga Pilar” yang digelar Pemerintah Daerah Provinsi Lampung, Kamis (13/12/2018) bertempat di Nove Hotel Provinsi Bandar Lampung.
Apel Tiga Pilar yang bertajuk, “Sinergitas dan Soliditas TNI, Polri dan Kepala Desa/Lurah Dalam rangka Pengamanan Pileg dan Pilpres Tahun 2019 Yang Aman, Damai dan Sejuk” ini dihadiri Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Irwan, S.I.P., M. Hum., Gubernur Lampung dan Kapolda Lampung.
Adapun tujuan dilaksanakannya Apel “Tiga Pilar” ini adalah selain untuk membangun silaturahmi, sinergitas dan soliditas sesama aparat negara, juga merupakan bentuk antisipasi dan kewaspadaan prajurit TNI, Polri dan Pemda sebagai Pilar Utama dalam mengantisipasi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat, terkait dengan pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden tahun 2019 mendatang yang saat ini tengah memasuki masa kampanye.
Apel tersebut juga merupakan wujud nyata kesiapsiagaan bersama sebagai Bhayangkari Negara, Prajurit TNI, Polri dan Pemda Lampung yang selalu hadir dan siap menjaga, melindungi dan mengamankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya di wilayah Provinsi Lampung dari berbagai bentuk ancaman dan rongrongan yang akan mengancam stabilitas keamanan di wilayah ini.
Turut hadir dalam Apel ‘Tiga Pilar’ ini, Danrem 043/Gatam, para Dandim jajaran Korem 043/Gatam dan para Kapolres jajaran Polda Lampung serta para Danramil dan Kapolsek se-wilayah Lampung. (Sumber Pendam II/Swj).
Wednesday, December 12, 2018
PANGDAM II/SRIWIJAYA MAYJEN TNI IRWAN, S.I.P, M.Hum RESMIKAN KODIM 0429/LAMPUNG TIMUR
Lampung Timur, Panglima Kodam II/Sriwijaya Mayjen TNI Irwan, S.I.P, M.Hum, Rabu (12/12/2018) pkl. 10.32 wib, meresmikan Kodim 0429/Lampung Timur yang digelar di Kecamatan Mataram Marga Kabupaten Lampung Timur
Peresmian Kodim 0429/Lampung Timur ini ditandai dengan penekanan tombol sirine dan penandatanganan prasasti oleh Pangdam II/Sriwijaya didampingi Kapolda Lampung Irjen Pol Purwadi Arianto, Kajati Lampung Susilo Yustinus, Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim dan Dandim 0411/LT Letkol Czi Burhannudin,S.E.,M.Si.
Pangdam II/Swj dalam sambutannya saat memimpin Upacara Peresmian Kodim 0429/Lampung Timur, memberikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat Kabupaten Lampung Timur, yang telah bekerja keras dan bekerjasama membantu berdirinya Makodim Kodim 0429/Lampung Timur.
“Berkenaan dengan peresmian ini, selaku Pangdam II/Swj dan mewakili TNI AD, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada Bupati Lampung Timur dan jajarannya, Ketua DPRD Lamtim beserta segenap Anggota Dewan, Para Pemuka Agama, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Pemuda serta seluruh warga masyarakat Kabupaten Lampung Timur, yang telah memberikan dukungan, bantuan dan kerja sama yang baik, mulai dari penyiapan Markas Kodim sampai dengan peresmiannya pada hari ini, sehingga semua dapat berjalan dengan baik, lancar dan sukses “ Ucap Pangdam.
"Dengan diresmikannya Kodim 0429/Lampung Timur ini, para prajurit Kodam II/Swj khususnya yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Timur akan semakin fokus dan optimal menjalankan tugas-tugasnya dalam rangka pemberdayaan wilayah darat yang sekaligus dapat meringankan kesulitan rakyat sekelilingnya", sambung Pangdam,
“Bagi kami Kodam II/Swj, tentunya pemekaran satuan Kodim 0429/Lampung Timur ini sangat berguna untuk efisiensi rentang Komando dan kendali sekaligus meningkatkan kesiapan operasional satuan TNI AD dalam merespon setiap kemungkinan terjadinya dinamika wilayah,” tegas Pangdam.
Usai upacara peresmian, Pangdam II/Swj dengan didampingi oleh Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim, Kapolda Lampung Irjen Pol Purwadi Arianto, Kajati Lampung Susilo Yustinus, unsur FKPD lainnya, melaksanakan penanaman pohon di lingkungan Kodim 0429/Lampung Timur.
Tuirut hadir pada kegiatan peresmian Kodim 0429/Lampung Timur, Danrem 043/Gatam Kolonel Kav Edwin Djatniko,S.Sos, Aster Kasdam II/ Sriwijaya Kolonel Inf Rionardo, Wakil Bupati Zaeful Bokhari, Ketua DPRD Ali Johan Arif, Asren Kasdam II/Sriwijaya Kolonel Arh Harvin Kidingalo, Kapendam II/Sriwijaya Kolonel Inf Djohan, Plh. Dandim 0429/Lamtim Letkol Inf CH. Prabowo, Kapolres AKBP Taufan Dirgantoro dan Tamu Undangan kurang lebih 600 orang. (Penrem Gatam/Mc Kodim 0411/LT)
Thursday, December 6, 2018
Kodam II/Swj Gelar Bhakti Sosial Hari Juang Kartika
Media Center Kodim 0411/LT.
Palembang, (Pendam II/Swj) – Kodam II/Swj melalui Kesehatan Kodam II/Swj menyelenggarakan Bhakti Sosial berupa, sunatan massal, donor darah dan pengobatan gratis. Kegiatan Baksos ini digelar dalam rangka memperingati Hari Juang Kartika yang jatuh pada tanggal 15 Desember 2018 mendatang.
Bakti Sosial ini juga dilaksanakan atas kerjasama Kodam II/Swj dengan Panitia Acara Maulid Arba’in 1440 H dan Acara Haul Syech Zawawi Izhom yang diselenggarakan pada Kamis (6/12/2018) pukul. 08.00 WIB bertempat di Masjid Sultan Agung Jln. Sultan Agung Kel. 1 Ilir, Kec. Ilir Timur II, Kota Palembang.
Selain melibatkan sebanyak 75 prajurit Kesdam II/Swj selaku pihak penyelenggara, kegiatan Baksos kali ini diikuti ratusan peserta, masing-masing untuk sunatan massal sejumlah 125 orang, donor darah sebanyak 100 orang yang terdiri dari 60 orang dari TNI dan 40 orang Sipil sedangkan untuk pengobatan gratis sebanyak 200 orang.
“Kegiatan Baksos yang dilaksanakan pada hari ini merupakan salah satu wujud kepedulian dan rasa tanggung jawab sosial TNI terhadap kondisi kehidupan masyarakat sekaligus wujud Kemanunggalan TNI dengan Rakyat. Melalui kegiatan Baksos ini, TNI terus berupaya membantu meringankan kesulitan masyarakat, terutama masyarakat yang kurang mampu”, ungkap Kakesdam II/Swj Kolonel Ckm dr, Eko Kuswandono.
Kegiatan baksos ini dihadiri juga oleh Wakakesdam II/Swj Letkol Ckm dr. Dedy Firmansyah, Sp.OT., Dandenkessyah 02.04.04 Palembang Letkol Ckm dr. Hilary, Sp.KJ., Dandenkeslap Palembang Letkol Ckm M. Nuh dan Pabandya Bhakti TNI Ster Dam II/Swj Letkol Inf Yunik Hartono serta para Kasi dan Kaur Kesdam II/Swj.
Subscribe to:
Posts (Atom)




















